II

Ada sekitar 6 karya yang ditampilkan dalam pameran “#KendalikanPrivasimu”. Khusus untuk pameran ini, ICT Watch Indonesia membuat sekitar 4 karya, sementara Studio Malya mencipta 2 buah karya. Pada karya berjudul “Aku Mengintip Kamu Mengintip”, Studio Malya menampilkan 14 panel karya foto yang disusun sedemikian rupa menyerupai tombol pada tampilan gawai digital. Di setiap panel terdapat foto figur dengan berbagai gestur. Pada beberapa panel terlihat ada seseorang yang tengah mengamati di latar yang samar. Karya ini seakan hendak menarasikan perilaku manusia kiwari yang selalu menatap (gaze) sebagai bentuk kesadaran dalam mempersepsi realitas dan eksistensi yang liyan.

Aktivitas saling menatap dan mengamati merupakan pola perilaku yang tidak dapat dipisahkan dengan eksistensi masyarakat kontemporer. Di jagat internet, kegiatan ini mengalami amplifikasi dan ekstensifikasi melalui berbagai perangkat elektronik dan media digital sehingga proses pengamatan dapat dilakukan dari jarak jauh. Hasrat untuk saling mengamati kemudian dapat menjadi dorongan untuk mengintip segala pernak-pernik aktivitas keseharian dengan motif yang bermacam-macam. Kita kemudian seakan hidup di dalam penjara panoptikon yang dapat diamati oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan untuk kepentingan apa saja. Ranah privasi menjadi wilayah yang rentan diterobos demi hasrat untuk menatap dan mengintip.

Tepat di sebelah karya ini terdapat sebuah karya yang dicipta oleh tim ICT Watch Indonesia dengan judul “Data Diecer”. Karya ini menampilkan tumpukan replika kartu tanda penduduk (KTP) yang berpadu dengan layar komputer tablet. Pada permukaan layar terlihat tampilan video loop animasi sejumlah KTP yang seakan mengalir tumpah ruah ke dalam dua buah kaleng kerupuk. KTP adalah kartu identitas warga negara yang dilindungi secara hukum. Dalam karya ini kartu identitas seakan mirip seperti makanan ringan yang biasa diketeng di warung-warung pinggir jalan. Karya ini tampaknya mengajak kita untuk melihat sebuah kenyataan bagaimana perlindungan data pribadi di Indonesia masih begitu mudah diumbar dan diecer di mana-mana. Begitu ringan seperti kerupuk yang biasa kita makan setiap hari.